Sejarah seni lukis modern telah dimulai pada abad 19, ditandai dengan munculnya berbagai macam corak dan gaya seni lukis yang secara tidak langsung membuatnya berbeda dengan karya-kaya sebelumnya. Prancis menjadi pusat awal mula berkembangnya seni lukis modern itu dengan Paris sebagai pusatnya. Aliran-aliran baru bermunculan dimulai dengan neo klasisisme, romantisme, realism, impresionis dan beragam gaya lukis abad 20 seperti fauvism, kubisme, neo-dadaisme dan lain-lain. Seni lukis modern menjadi ekspresi estetis dari ide-ide yang diwujudkan sang pelukis dalam bentuk konkrit, dalam seni ini kebebasan serta sikap batin pelukis sangat menentukan proses pembuatan lukisan.
Kemudian pada masa ini,pada tahun 1860, muncul gerakan seni impresionisme yang pada mulanya merupakan wujud rasa tidak puas terhadap perkembangan seni akademis yang berkonsentrasi pada mahzab seni lukis klasik. Eugene Delacroix mengemukakan pendapat bahwa lukisan tidak selamanya dibentuk dengan pengolahan garis secara berlebihan seperti dikembangkan oleh Ingres selama bertahun-tahun, menurutnya pengolahan bidang-bidang warna dengan penuh perhitungan akan menghasilkan bentuk lukisan yang menarik. Beberapa pelukis kemudian mulai melanggar aturan-aturan akademis dalam pembuatan lukisan, mereka tidak lagi berkonsentrasi pada bentuk secara mendetail dengan mementingkan kontur, volume dan garis. Mereka juga meninggalkan pengamatan strukturan bentuk suatu obyek, sehingga suasana yang didapat ialah dengan menangkap kesan atau impresi cahaya yang ditangkap sekilas oleh mata. Bentuk obyek lukisan yang dihasilkan kemudian menjadi lebih sederhana, tidak seperti lukisan naturalism ataupun realism. Kritikus Louis Leroy kemudian mengutip judul lukisan Claude Monet “Impression, soleil levant” untuk menyindir gaya lukisan ini dalam artikelnya Le Charivari. Lukisan Impresionis memiliki karakteristik goresan kuas yang kuat, warna-warna cerah (sebagian pelukis menghindari penggunaan warna hitam karena dianggap bukan bagian dari cahaya), subyek lukisan yang tidak terlalu mononjol, komposisi terbuka, penekanan pada kualitas pencahayaan dan sudut pandang yang tidak biasa. Goresan warna-warna pendek, pecah sekaligus murni atau hasil dari ketidak sengajaan diatas palet digunakan untuk memberi nyawa pada lukisan. Penekanan lukisan kemudian bergeser kepada kesan keseluruhan daripada detail obyek tertentu. Perkembangan selanjutnya dari impresionisme adalah penemuan bahwa yang lebih penting daripada teknik impresionisme sendiri adalah pembedaan dalam sudut pandang.
Pada akhir abad 19, masyarakat mulai mempercayai bahwa impresionisme adalah cara pandang yang jernih dan jujur terhadap kehidupan, meskipun secara artisitik bukanlah pendekatan yang benar dalam pembuatan karya. Gerakan impresionisme menjadi pelopor berkembangnya aliran-aliran seni modern lain seperti Post-Impresionisme, Fauvisme, and Kubisme. Pelukis pada era ini contohnya adalah Vincent Van Gogh, Paul Gauguin, Georges Seurat dan Henri de Toulouse-Lautrec. Karya seluruh seniman ini meskipun tidak lagi menganut aliran neoklasikme namun masih mengandung unsur-unsur dasarnya.
Jumat, 18 Desember 2009
Kamis, 03 Desember 2009
je suis condamne a etre libre
nampaknya quote mbah sartre yg satu ini lagi "mengena" bgt buat sha
manusia itu emang dihukum untuk menjadi bebas, selalu manusia dihadapkan pada pilihan..
lg complicated bgt (sorry yah blog, kalo lagi labil larinya kesini terus!xp)
udah smalaman sga pusing mikirin ini
walaupun sudah sharing ke teman, tetap aja bingung
kalau menurut teman gw, kita harusnya bisa nyaman dengan pilihan yang kita suka
tapi sha berpendapat lain, karena nampaknya pilihan tidak bisa selalu jatuh pada hal yang kita suka, tetapi jatuh pada konsekuensi dari pilihan itu
ini masalahnya sudah ditumpuk dari tahun lalu, dan sha cuekin (karena biasanya kalo dicuekin akan beres sendiri) tapi ternyata tidak juga, masalah ini masi aja muncul bahkan sekarang disaat seharusnya sha konsentrasi buat belajar UAS
pikitan jadi terbelah gini, bner juga kata orang..ironis memang kalo kita gak kenal baik sama kandang senidiri..tapi apakah salah kalo memang dari sul sha tidak pernah merasa nyaman didalamnya??
honestly, i'd like to be the part of them..tapi gw selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit karena waktunya berbarengan dengan hal lain yang jelas gw sudah merasa nyaman dari setahun yang lalu..
hufff sudah lelah dan tidak punya waktu untuk memikirkan ini terus
gotta go to campus
hope today i could find the way i'll love to belong with..
manusia itu emang dihukum untuk menjadi bebas, selalu manusia dihadapkan pada pilihan..
lg complicated bgt (sorry yah blog, kalo lagi labil larinya kesini terus!xp)
udah smalaman sga pusing mikirin ini
walaupun sudah sharing ke teman, tetap aja bingung
kalau menurut teman gw, kita harusnya bisa nyaman dengan pilihan yang kita suka
tapi sha berpendapat lain, karena nampaknya pilihan tidak bisa selalu jatuh pada hal yang kita suka, tetapi jatuh pada konsekuensi dari pilihan itu
ini masalahnya sudah ditumpuk dari tahun lalu, dan sha cuekin (karena biasanya kalo dicuekin akan beres sendiri) tapi ternyata tidak juga, masalah ini masi aja muncul bahkan sekarang disaat seharusnya sha konsentrasi buat belajar UAS
pikitan jadi terbelah gini, bner juga kata orang..ironis memang kalo kita gak kenal baik sama kandang senidiri..tapi apakah salah kalo memang dari sul sha tidak pernah merasa nyaman didalamnya??
honestly, i'd like to be the part of them..tapi gw selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit karena waktunya berbarengan dengan hal lain yang jelas gw sudah merasa nyaman dari setahun yang lalu..
hufff sudah lelah dan tidak punya waktu untuk memikirkan ini terus
gotta go to campus
hope today i could find the way i'll love to belong with..
Minggu, 29 November 2009
eksistensialisme-jean paul sartre
wow udah lama bgt niyh blognya terbengkalai..gak terlalu ngrti gimana ngelola blog soalnya
anyway gw mw kasi entri baru wat blog ini, paper mata kuliah pengantar filsafat dan pemikiran modern! mata kuliah yang bikin lumayan sinting..zzzz
Eksistensialisme-Jean Paul Sartre
Filsuf asal Prancis, Jean Paul Sartre, berkarya pada masa perlawanan Prancis terhadap kependudukan NAZI dan terkenal dengan pendapat-pendapatnya yang cenderung radikal serta ekstrem. Semasa hidupnya pun ia bertahan dengan pendiriannya yang sangat revolusioner dan berhaluan kiri. Sartre dilahirkan dalam keluarga kalangan borjuis yang taat beragama Katolik. Sejak muda ia tidak menyukai lingkungan borjuis dan segala kebiasaannya, perasaan tidak suka tersebut perlahan berubah menjadi rasa muak (la nauseée) dan keinginan untuk memberontak (la révolte). Atas dasar itu pula ia kemudian mengungkapkan gagasan dalam hidupnya, yaitu eksistensialisme , melalui buku yang berjudul L’Être et Le Néant (Ada dan Ketiadaan). Pemikiran Sartre berkisar pada kebebasan sebagai sentral yang menegaskan bahwa tidak cukup kalau dikatakan kebebasan merupakan salah satu ciri khas atau sifat hakiki manusia, akan tetapi harus dikatakan bahwa manusia itu bebas.
Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang tidak mempunyai kodrat tertentu sehingga manusia dapat membentuk esensinya sendiri: “l’homme n’est rien d’autre que ce qu’il se fait” (manusia adalah sebagaimana ia menjadikan dirinya sendiri). Bila kita menerima kodrat, maka tidak mungkin kita menganggap kebebasan sebagai inti eksistensi manusia. Pernyataan inilah yang membawanya ke jalur ateisme . Dia berpendapat bila terdapat Tuhan yang menciptakan manusia, maka manusia akan menjadi objek dengan kodrat tertentu dan sudah ditentukan esensinya sebelum kemunculannya, maka kebebasan telah dicabut dari eksistensi manusia.
Sartre mengemukakan bahwa eksistensi selalu berupa hal yang individual, unik dan bukan yang universal. Artinya, eksistensi tidak bisa berkurang pada esensi, kodrat, hakikat yang universal sifatnya: "L'existence précède l'essence (Keadaan mendahului keberadaan). Eksistensi mendahului esensi, dalam konteks ini eksistensi adalah yang diperkarakan sedangkan esensi adalah apa adanya sehingga kita tidak mempertanyakan apa tapi mengakui keberadaannya. Manusia pertama-tama ada dan baru kemudian mewujudkan esensi atau kodratnya sendiri, ia semata-mata adalah apa yang dirajutnya sendiri dan merupakan sosok yang bebas namun eksistensi tersebut dimuati kesadaran. Maka dasar pemikiran eksistensialisme Sartre adalah kesadaran.
Dalam pemikirannya, Sartre banyak dipengaruhi oleh fenomenologi yang mendasarkan bahwa kesadaran tidak pernah semata-mata kesadaran, melainkan selalu kesadaran tentang sesuatu dan bersifat intensional. Tidak ada kesadaran yang mengafirmasi sesuatu diluarnya, yang bukan kesadaran, yang mentrasendirnya (diluar batasannya). Maka Sartre memiliki pandangan yang berbeda tentang konsep kesadaran, yaitu être-en-soi dan être-pour-soi. être-en-soi adalah apa yang ada begitu saja, yang selalu identik pada dirinya sendiri (ada pada dirinya), sedangkan être-pour-soi adalah kesadaran manusia yang tidak pernah identik dengan dirinya sendiri (ada bagi dirinya), karena manusia selalu dapat meniadakan apa saja yang mau menentukan dia sehingga ia bebas sama sekali. Namun karena manusia hidup bersama orang lain, maka mereka dapat menjadikannya sebagai objek dengan kodrat begini ataupun begitu yang disebut : être-pour-autrui (ada bagi orang lain), akan tetapi manusia tidak terikat oleh kodrat itu dan dapat melepaskan diri dari kodrat yang dibentuk orang mengenainya karena memiliki kebebasan. Manusia baru akan kehilangan kebebasannya bila ia mati dan saat itu orang dapat menegaskan sesuatu tentangnya karena eksistensi pada dirinya telah tercabut.
Akan tetapi, Sartre juga mengatakan bahwa kebebasan bukanlah pilihan bagi manusia : “je suis condamné à être libre” (saya dihukum untuk hidup bebas), sebab kebebasan itu bersifat absolut dan mutlak serta mencakup seluruh eksistensi manusia. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan serta situasi yang mewajibkannya untuk memilih. Ia bertanggung jawab atas pilihan tersebut, dengan kata lain ia dihukum untuk memiliki kebebasan. Tidak ada batas untuk kebebasan selain kebebasan itu sendiri, karena kebebasan itu sendiri yang menentukan batas-batasnya.
Salah satu sikap hidup yang sangat dihindari Sartre adalah sikap malafide, karena orang yang hidup menurut sikap ini mencoba untuk mengganti cara bereksistensi yang pada hakikatnya être-pour-soi dengan cara berada sebagai être-en-soi. Orang seperti itu melarikan diri dari kebebasan yang merupakan nasibnya dan membiarkan hidupnya ditentukan oleh faktor-faktor lain, sehingga bisa diartikan ia melarikan diri dari tanggung jawab atas kebebasannya.
Dia juga memiliki anggapan bahwa tidak ada norma-norma atau nilai-nilai yang obyektif, karena norma dan nilai etis tidak berasal dari Tuhan dan tidak berada dalam kodrat manusia, itu semua bergantung pada kebebasan. Karena kebebasan merupakan satu-satunya sumber yang dapat menghasilkan nilai etis, maka sebuah keputusan yang diambil oleh manusia haruslah berdasarkan kebebasannya sendiri dengan tanggung jawabnya sendiri, dan keputusan tersebut akan bersifat baik sejauh itu diambil secara bebas.
well, mudah2an ini jadi salah satu entri paling bermakna (ketimbang entri lain yg isinya cuma curcol!heee) dan bisa bermanfaat buat orang lain..
anyway gw mw kasi entri baru wat blog ini, paper mata kuliah pengantar filsafat dan pemikiran modern! mata kuliah yang bikin lumayan sinting..zzzz
Eksistensialisme-Jean Paul Sartre
Filsuf asal Prancis, Jean Paul Sartre, berkarya pada masa perlawanan Prancis terhadap kependudukan NAZI dan terkenal dengan pendapat-pendapatnya yang cenderung radikal serta ekstrem. Semasa hidupnya pun ia bertahan dengan pendiriannya yang sangat revolusioner dan berhaluan kiri. Sartre dilahirkan dalam keluarga kalangan borjuis yang taat beragama Katolik. Sejak muda ia tidak menyukai lingkungan borjuis dan segala kebiasaannya, perasaan tidak suka tersebut perlahan berubah menjadi rasa muak (la nauseée) dan keinginan untuk memberontak (la révolte). Atas dasar itu pula ia kemudian mengungkapkan gagasan dalam hidupnya, yaitu eksistensialisme , melalui buku yang berjudul L’Être et Le Néant (Ada dan Ketiadaan). Pemikiran Sartre berkisar pada kebebasan sebagai sentral yang menegaskan bahwa tidak cukup kalau dikatakan kebebasan merupakan salah satu ciri khas atau sifat hakiki manusia, akan tetapi harus dikatakan bahwa manusia itu bebas.
Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang tidak mempunyai kodrat tertentu sehingga manusia dapat membentuk esensinya sendiri: “l’homme n’est rien d’autre que ce qu’il se fait” (manusia adalah sebagaimana ia menjadikan dirinya sendiri). Bila kita menerima kodrat, maka tidak mungkin kita menganggap kebebasan sebagai inti eksistensi manusia. Pernyataan inilah yang membawanya ke jalur ateisme . Dia berpendapat bila terdapat Tuhan yang menciptakan manusia, maka manusia akan menjadi objek dengan kodrat tertentu dan sudah ditentukan esensinya sebelum kemunculannya, maka kebebasan telah dicabut dari eksistensi manusia.
Sartre mengemukakan bahwa eksistensi selalu berupa hal yang individual, unik dan bukan yang universal. Artinya, eksistensi tidak bisa berkurang pada esensi, kodrat, hakikat yang universal sifatnya: "L'existence précède l'essence (Keadaan mendahului keberadaan). Eksistensi mendahului esensi, dalam konteks ini eksistensi adalah yang diperkarakan sedangkan esensi adalah apa adanya sehingga kita tidak mempertanyakan apa tapi mengakui keberadaannya. Manusia pertama-tama ada dan baru kemudian mewujudkan esensi atau kodratnya sendiri, ia semata-mata adalah apa yang dirajutnya sendiri dan merupakan sosok yang bebas namun eksistensi tersebut dimuati kesadaran. Maka dasar pemikiran eksistensialisme Sartre adalah kesadaran.
Dalam pemikirannya, Sartre banyak dipengaruhi oleh fenomenologi yang mendasarkan bahwa kesadaran tidak pernah semata-mata kesadaran, melainkan selalu kesadaran tentang sesuatu dan bersifat intensional. Tidak ada kesadaran yang mengafirmasi sesuatu diluarnya, yang bukan kesadaran, yang mentrasendirnya (diluar batasannya). Maka Sartre memiliki pandangan yang berbeda tentang konsep kesadaran, yaitu être-en-soi dan être-pour-soi. être-en-soi adalah apa yang ada begitu saja, yang selalu identik pada dirinya sendiri (ada pada dirinya), sedangkan être-pour-soi adalah kesadaran manusia yang tidak pernah identik dengan dirinya sendiri (ada bagi dirinya), karena manusia selalu dapat meniadakan apa saja yang mau menentukan dia sehingga ia bebas sama sekali. Namun karena manusia hidup bersama orang lain, maka mereka dapat menjadikannya sebagai objek dengan kodrat begini ataupun begitu yang disebut : être-pour-autrui (ada bagi orang lain), akan tetapi manusia tidak terikat oleh kodrat itu dan dapat melepaskan diri dari kodrat yang dibentuk orang mengenainya karena memiliki kebebasan. Manusia baru akan kehilangan kebebasannya bila ia mati dan saat itu orang dapat menegaskan sesuatu tentangnya karena eksistensi pada dirinya telah tercabut.
Akan tetapi, Sartre juga mengatakan bahwa kebebasan bukanlah pilihan bagi manusia : “je suis condamné à être libre” (saya dihukum untuk hidup bebas), sebab kebebasan itu bersifat absolut dan mutlak serta mencakup seluruh eksistensi manusia. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan serta situasi yang mewajibkannya untuk memilih. Ia bertanggung jawab atas pilihan tersebut, dengan kata lain ia dihukum untuk memiliki kebebasan. Tidak ada batas untuk kebebasan selain kebebasan itu sendiri, karena kebebasan itu sendiri yang menentukan batas-batasnya.
Salah satu sikap hidup yang sangat dihindari Sartre adalah sikap malafide, karena orang yang hidup menurut sikap ini mencoba untuk mengganti cara bereksistensi yang pada hakikatnya être-pour-soi dengan cara berada sebagai être-en-soi. Orang seperti itu melarikan diri dari kebebasan yang merupakan nasibnya dan membiarkan hidupnya ditentukan oleh faktor-faktor lain, sehingga bisa diartikan ia melarikan diri dari tanggung jawab atas kebebasannya.
Dia juga memiliki anggapan bahwa tidak ada norma-norma atau nilai-nilai yang obyektif, karena norma dan nilai etis tidak berasal dari Tuhan dan tidak berada dalam kodrat manusia, itu semua bergantung pada kebebasan. Karena kebebasan merupakan satu-satunya sumber yang dapat menghasilkan nilai etis, maka sebuah keputusan yang diambil oleh manusia haruslah berdasarkan kebebasannya sendiri dengan tanggung jawabnya sendiri, dan keputusan tersebut akan bersifat baik sejauh itu diambil secara bebas.
well, mudah2an ini jadi salah satu entri paling bermakna (ketimbang entri lain yg isinya cuma curcol!heee) dan bisa bermanfaat buat orang lain..
Minggu, 11 Oktober 2009
titik loncat??
le memento d'aujourd'hui..
late night gini gw kembali membuka blog ini karena td lg main petsos tiba2 error dan fb juga sama lemotnya..have nothing to do, gak mood ngapa2in rasanya
nah, itu tuh penyakit yg kayaknya menyerang sejak semester 3 ini..males ngapa2in!
kayak gak punya motivasi aj buat blajar..eh buat banyak hal juga sih
i miss my bedroom sooo muuuucchhhh!
knapa??karena sejak bulan puasa kmrn ada tikus mati d plafon kamar, udah berusaha dicari sih..tapi gak ketemu2, gak tw deh dmana tuh makhluk yg pasti bau-nya gak ilang2 dan terpaksa deh gw ngungsi!
teruuss..knapa jadi males??karena my bedroom is my life!
dan itu menjadi kambing hitam berantaknya hidup gw sekarang ini!
gw biasa melakukan banyak hal disitu, selain tidur pastinya, jadi yaaa semuanya berantakan
mulai dari buku2 yg terpaksa juga ikut ngungsi tapi jatuhnya malah acak2an sampe baju yg jadinya gw ambil secara serabutan tiap pagi..
masalah yg satu ini krusial bgt niyh, karena minggu lalu nyokap sempet mengernyitkan dahi liad baju yg gw pakai..biru campur ijo (udah kelewatan anehnya itu, soalnya biasanya nyokap gak pernah komen soal pakaian)
sense of fashion gw lg gak jalan bgt dan kalo udah kayak gt larinya ke hitam hitam dan hitam mulu..sesuai warna hati (alamakjan sok sendu gt!xp)
kuliaaahhh..haduu tak tw lah ini kenapa rasanya makin hari makin males yah, padahal udah mw uts dan gw harus belajar demi mengembalikan IP gw menjadi 3 lagi!
*aduh bosen jg nulis curcol begini..
intinya sih..
butuh bgt motivasi, sesuai sama obrolan dgn temen gw minggu lalu
kita sebagai mahasiswa harus punya titik loncat..tapi kapan dan dgn apa??
harus d cari lagi deh tuh!
late night gini gw kembali membuka blog ini karena td lg main petsos tiba2 error dan fb juga sama lemotnya..have nothing to do, gak mood ngapa2in rasanya
nah, itu tuh penyakit yg kayaknya menyerang sejak semester 3 ini..males ngapa2in!
kayak gak punya motivasi aj buat blajar..eh buat banyak hal juga sih
i miss my bedroom sooo muuuucchhhh!
knapa??karena sejak bulan puasa kmrn ada tikus mati d plafon kamar, udah berusaha dicari sih..tapi gak ketemu2, gak tw deh dmana tuh makhluk yg pasti bau-nya gak ilang2 dan terpaksa deh gw ngungsi!
teruuss..knapa jadi males??karena my bedroom is my life!
dan itu menjadi kambing hitam berantaknya hidup gw sekarang ini!
gw biasa melakukan banyak hal disitu, selain tidur pastinya, jadi yaaa semuanya berantakan
mulai dari buku2 yg terpaksa juga ikut ngungsi tapi jatuhnya malah acak2an sampe baju yg jadinya gw ambil secara serabutan tiap pagi..
masalah yg satu ini krusial bgt niyh, karena minggu lalu nyokap sempet mengernyitkan dahi liad baju yg gw pakai..biru campur ijo (udah kelewatan anehnya itu, soalnya biasanya nyokap gak pernah komen soal pakaian)
sense of fashion gw lg gak jalan bgt dan kalo udah kayak gt larinya ke hitam hitam dan hitam mulu..sesuai warna hati (alamakjan sok sendu gt!xp)
kuliaaahhh..haduu tak tw lah ini kenapa rasanya makin hari makin males yah, padahal udah mw uts dan gw harus belajar demi mengembalikan IP gw menjadi 3 lagi!
*aduh bosen jg nulis curcol begini..
intinya sih..
butuh bgt motivasi, sesuai sama obrolan dgn temen gw minggu lalu
kita sebagai mahasiswa harus punya titik loncat..tapi kapan dan dgn apa??
harus d cari lagi deh tuh!
Sabtu, 10 Oktober 2009
la voila..hujan lagi hujan lagi!
hmm...hari ini akhirnya sha bikin blog, setelah mengikuti saran teman (saran macam apa itu??)
blog..buat berbagi, buat tempat curcol, buat tempat berdodol-dodol ria
semuanya bisa d terima disini..kalau ada orang bilang blog tempat bercurhat mungkin benar adanya, seperti gw yang mw berbagi cerita gak penting ini!
...
zut! hari ini parah bgt..sesuai sama tagline so sooo stupid sha
lagi2 hari ini sha mengalami kebodohan amat sangat, td siang itu (di suatu tempat yg gak mw sha sebutin) gak ngerti knapa tiba2 blank!!iyaa...blank aj gt, gak tw udah ngomong apa aja atau udah ngapain aj..cuma nyengir aj gt selama kira2 20 menit
kenapa bisa begitu?kenapa..kenapa??sama sha jg gak tw
yang pasti otak rasanya udah kebolak-balik, tangan kelewat dingin dan emang dingin soalnya ujan sih
kata temen..il y a un tremblement dans ma tete
oui oui, c'est ca..parfaitement correct!!
jadi, emang sha tuh sampai detik ini juga gak ngerti kenapa tadi bisa menginjakan kaki disana.
Awalnya sih fine, walaupun temen sha yg janji mw nemenin gak dtg, tapi abis itu..paaarrraaaahhhh!!
(bngung soalnya mw mendeskripsikan pake kata2 gmana?)
sampe sesi terakhir yang..ahhh, bikin kelewad hopeless
*okay, cukup lebay-nya
sha sering sih mengalami kebodohan2 seperti ini, tapi yg ini tuh beda, yg ini tuh agaknya kelewatan dan sampe detik ini masih terngiang d kepala, mengambil alih ingatan sha ttg voltaire dan kawan-kawannya, dan ini sampe sekarang masih bikin nervous
can't help deh..
hmm...hari ini akhirnya sha bikin blog, setelah mengikuti saran teman (saran macam apa itu??)
blog..buat berbagi, buat tempat curcol, buat tempat berdodol-dodol ria
semuanya bisa d terima disini..kalau ada orang bilang blog tempat bercurhat mungkin benar adanya, seperti gw yang mw berbagi cerita gak penting ini!
...
zut! hari ini parah bgt..sesuai sama tagline so sooo stupid sha
lagi2 hari ini sha mengalami kebodohan amat sangat, td siang itu (di suatu tempat yg gak mw sha sebutin) gak ngerti knapa tiba2 blank!!iyaa...blank aj gt, gak tw udah ngomong apa aja atau udah ngapain aj..cuma nyengir aj gt selama kira2 20 menit
kenapa bisa begitu?kenapa..kenapa??sama sha jg gak tw
yang pasti otak rasanya udah kebolak-balik, tangan kelewat dingin dan emang dingin soalnya ujan sih
kata temen..il y a un tremblement dans ma tete
oui oui, c'est ca..parfaitement correct!!
jadi, emang sha tuh sampai detik ini juga gak ngerti kenapa tadi bisa menginjakan kaki disana.
Awalnya sih fine, walaupun temen sha yg janji mw nemenin gak dtg, tapi abis itu..paaarrraaaahhhh!!
(bngung soalnya mw mendeskripsikan pake kata2 gmana?)
sampe sesi terakhir yang..ahhh, bikin kelewad hopeless
*okay, cukup lebay-nya
sha sering sih mengalami kebodohan2 seperti ini, tapi yg ini tuh beda, yg ini tuh agaknya kelewatan dan sampe detik ini masih terngiang d kepala, mengambil alih ingatan sha ttg voltaire dan kawan-kawannya, dan ini sampe sekarang masih bikin nervous
can't help deh..
sha, alors!
Langganan:
Postingan (Atom)
