Minggu, 29 November 2009

eksistensialisme-jean paul sartre

wow udah lama bgt niyh blognya terbengkalai..gak terlalu ngrti gimana ngelola blog soalnya
anyway gw mw kasi entri baru wat blog ini, paper mata kuliah pengantar filsafat dan pemikiran modern! mata kuliah yang bikin lumayan sinting..zzzz

Eksistensialisme-Jean Paul Sartre

Filsuf asal Prancis, Jean Paul Sartre, berkarya pada masa perlawanan Prancis terhadap kependudukan NAZI dan terkenal dengan pendapat-pendapatnya yang cenderung radikal serta ekstrem. Semasa hidupnya pun ia bertahan dengan pendiriannya yang sangat revolusioner dan berhaluan kiri. Sartre dilahirkan dalam keluarga kalangan borjuis yang taat beragama Katolik. Sejak muda ia tidak menyukai lingkungan borjuis dan segala kebiasaannya, perasaan tidak suka tersebut perlahan berubah menjadi rasa muak (la nauseée) dan keinginan untuk memberontak (la révolte). Atas dasar itu pula ia kemudian mengungkapkan gagasan dalam hidupnya, yaitu eksistensialisme , melalui buku yang berjudul L’Être et Le Néant (Ada dan Ketiadaan). Pemikiran Sartre berkisar pada kebebasan sebagai sentral yang menegaskan bahwa tidak cukup kalau dikatakan kebebasan merupakan salah satu ciri khas atau sifat hakiki manusia, akan tetapi harus dikatakan bahwa manusia itu bebas.
Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang tidak mempunyai kodrat tertentu sehingga manusia dapat membentuk esensinya sendiri: “l’homme n’est rien d’autre que ce qu’il se fait” (manusia adalah sebagaimana ia menjadikan dirinya sendiri). Bila kita menerima kodrat, maka tidak mungkin kita menganggap kebebasan sebagai inti eksistensi manusia. Pernyataan inilah yang membawanya ke jalur ateisme . Dia berpendapat bila terdapat Tuhan yang menciptakan manusia, maka manusia akan menjadi objek dengan kodrat tertentu dan sudah ditentukan esensinya sebelum kemunculannya, maka kebebasan telah dicabut dari eksistensi manusia.
Sartre mengemukakan bahwa eksistensi selalu berupa hal yang individual, unik dan bukan yang universal. Artinya, eksistensi tidak bisa berkurang pada esensi, kodrat, hakikat yang universal sifatnya: "L'existence précède l'essence (Keadaan mendahului keberadaan). Eksistensi mendahului esensi, dalam konteks ini eksistensi adalah yang diperkarakan sedangkan esensi adalah apa adanya sehingga kita tidak mempertanyakan apa tapi mengakui keberadaannya. Manusia pertama-tama ada dan baru kemudian mewujudkan esensi atau kodratnya sendiri, ia semata-mata adalah apa yang dirajutnya sendiri dan merupakan sosok yang bebas namun eksistensi tersebut dimuati kesadaran. Maka dasar pemikiran eksistensialisme Sartre adalah kesadaran.
Dalam pemikirannya, Sartre banyak dipengaruhi oleh fenomenologi yang mendasarkan bahwa kesadaran tidak pernah semata-mata kesadaran, melainkan selalu kesadaran tentang sesuatu dan bersifat intensional. Tidak ada kesadaran yang mengafirmasi sesuatu diluarnya, yang bukan kesadaran, yang mentrasendirnya (diluar batasannya). Maka Sartre memiliki pandangan yang berbeda tentang konsep kesadaran, yaitu être-en-soi dan être-pour-soi. être-en-soi adalah apa yang ada begitu saja, yang selalu identik pada dirinya sendiri (ada pada dirinya), sedangkan être-pour-soi adalah kesadaran manusia yang tidak pernah identik dengan dirinya sendiri (ada bagi dirinya), karena manusia selalu dapat meniadakan apa saja yang mau menentukan dia sehingga ia bebas sama sekali. Namun karena manusia hidup bersama orang lain, maka mereka dapat menjadikannya sebagai objek dengan kodrat begini ataupun begitu yang disebut : être-pour-autrui (ada bagi orang lain), akan tetapi manusia tidak terikat oleh kodrat itu dan dapat melepaskan diri dari kodrat yang dibentuk orang mengenainya karena memiliki kebebasan. Manusia baru akan kehilangan kebebasannya bila ia mati dan saat itu orang dapat menegaskan sesuatu tentangnya karena eksistensi pada dirinya telah tercabut.
Akan tetapi, Sartre juga mengatakan bahwa kebebasan bukanlah pilihan bagi manusia : “je suis condamné à être libre” (saya dihukum untuk hidup bebas), sebab kebebasan itu bersifat absolut dan mutlak serta mencakup seluruh eksistensi manusia. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan serta situasi yang mewajibkannya untuk memilih. Ia bertanggung jawab atas pilihan tersebut, dengan kata lain ia dihukum untuk memiliki kebebasan. Tidak ada batas untuk kebebasan selain kebebasan itu sendiri, karena kebebasan itu sendiri yang menentukan batas-batasnya.
Salah satu sikap hidup yang sangat dihindari Sartre adalah sikap malafide, karena orang yang hidup menurut sikap ini mencoba untuk mengganti cara bereksistensi yang pada hakikatnya être-pour-soi dengan cara berada sebagai être-en-soi. Orang seperti itu melarikan diri dari kebebasan yang merupakan nasibnya dan membiarkan hidupnya ditentukan oleh faktor-faktor lain, sehingga bisa diartikan ia melarikan diri dari tanggung jawab atas kebebasannya.
Dia juga memiliki anggapan bahwa tidak ada norma-norma atau nilai-nilai yang obyektif, karena norma dan nilai etis tidak berasal dari Tuhan dan tidak berada dalam kodrat manusia, itu semua bergantung pada kebebasan. Karena kebebasan merupakan satu-satunya sumber yang dapat menghasilkan nilai etis, maka sebuah keputusan yang diambil oleh manusia haruslah berdasarkan kebebasannya sendiri dengan tanggung jawabnya sendiri, dan keputusan tersebut akan bersifat baik sejauh itu diambil secara bebas.


well, mudah2an ini jadi salah satu entri paling bermakna (ketimbang entri lain yg isinya cuma curcol!heee) dan bisa bermanfaat buat orang lain..