Sejarah seni lukis modern telah dimulai pada abad 19, ditandai dengan munculnya berbagai macam corak dan gaya seni lukis yang secara tidak langsung membuatnya berbeda dengan karya-kaya sebelumnya. Prancis menjadi pusat awal mula berkembangnya seni lukis modern itu dengan Paris sebagai pusatnya. Aliran-aliran baru bermunculan dimulai dengan neo klasisisme, romantisme, realism, impresionis dan beragam gaya lukis abad 20 seperti fauvism, kubisme, neo-dadaisme dan lain-lain. Seni lukis modern menjadi ekspresi estetis dari ide-ide yang diwujudkan sang pelukis dalam bentuk konkrit, dalam seni ini kebebasan serta sikap batin pelukis sangat menentukan proses pembuatan lukisan.
Kemudian pada masa ini,pada tahun 1860, muncul gerakan seni impresionisme yang pada mulanya merupakan wujud rasa tidak puas terhadap perkembangan seni akademis yang berkonsentrasi pada mahzab seni lukis klasik. Eugene Delacroix mengemukakan pendapat bahwa lukisan tidak selamanya dibentuk dengan pengolahan garis secara berlebihan seperti dikembangkan oleh Ingres selama bertahun-tahun, menurutnya pengolahan bidang-bidang warna dengan penuh perhitungan akan menghasilkan bentuk lukisan yang menarik. Beberapa pelukis kemudian mulai melanggar aturan-aturan akademis dalam pembuatan lukisan, mereka tidak lagi berkonsentrasi pada bentuk secara mendetail dengan mementingkan kontur, volume dan garis. Mereka juga meninggalkan pengamatan strukturan bentuk suatu obyek, sehingga suasana yang didapat ialah dengan menangkap kesan atau impresi cahaya yang ditangkap sekilas oleh mata. Bentuk obyek lukisan yang dihasilkan kemudian menjadi lebih sederhana, tidak seperti lukisan naturalism ataupun realism. Kritikus Louis Leroy kemudian mengutip judul lukisan Claude Monet “Impression, soleil levant” untuk menyindir gaya lukisan ini dalam artikelnya Le Charivari. Lukisan Impresionis memiliki karakteristik goresan kuas yang kuat, warna-warna cerah (sebagian pelukis menghindari penggunaan warna hitam karena dianggap bukan bagian dari cahaya), subyek lukisan yang tidak terlalu mononjol, komposisi terbuka, penekanan pada kualitas pencahayaan dan sudut pandang yang tidak biasa. Goresan warna-warna pendek, pecah sekaligus murni atau hasil dari ketidak sengajaan diatas palet digunakan untuk memberi nyawa pada lukisan. Penekanan lukisan kemudian bergeser kepada kesan keseluruhan daripada detail obyek tertentu. Perkembangan selanjutnya dari impresionisme adalah penemuan bahwa yang lebih penting daripada teknik impresionisme sendiri adalah pembedaan dalam sudut pandang.
Pada akhir abad 19, masyarakat mulai mempercayai bahwa impresionisme adalah cara pandang yang jernih dan jujur terhadap kehidupan, meskipun secara artisitik bukanlah pendekatan yang benar dalam pembuatan karya. Gerakan impresionisme menjadi pelopor berkembangnya aliran-aliran seni modern lain seperti Post-Impresionisme, Fauvisme, and Kubisme. Pelukis pada era ini contohnya adalah Vincent Van Gogh, Paul Gauguin, Georges Seurat dan Henri de Toulouse-Lautrec. Karya seluruh seniman ini meskipun tidak lagi menganut aliran neoklasikme namun masih mengandung unsur-unsur dasarnya.
Jumat, 18 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

hoi, rai ceke. wah sama-sama blogspot neh. gw link yak..?
BalasHapusbtw, gw gak ngerti seni lukis. tapi pengen tau dah, yang nerapin aliran ini di indonesia sapa yak?
hei, ditunggu postingan selanjutnya.hehe