Rabu, 21 April 2010

setelah revisi revisi revisiii

Makalah Pengkajian Kesusastraan Prancis

Analisis Simbol dalam Cerita Pendek Clair de Lune













Disusun Oleh :
Raisha Shadrina
0806355714


Program Studi Sastra Prancis
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Guy de Maupassant adalah salah satu pengarang besar dari abad XIX, ia terkenal terutama dengan karya-karya cerita pendeknya. Lahir pada tanggal 5 Agustus 1850 di Château de Miromesniel, Dieppe, Maupassant berasal dari keluarga asli Lorraine, ia kemudian pindah ke Normandie untuk sekolah.
Ia memulai karirnya sebagai penulis pada tahun 1880 dengan debutnya yang berjudul Des Vers. Semasa hidupnya ia menciptakan 300 cerita pendek yang diangkat dari kehidupan sehari-hari. Pengarang cerpen terkenal di Prancis ini meninggal dunia pada 6 July 1893 dalam usahanya bunuh diri. Karya-karya Maupassant banyak terpengaruh oleh Gustav Flaubert yang banyak menulis tentang kecantikan murni yang kekal abadi. Aliran naturalis yang muncul pada abad XIX adalah sebuah pertentangan dari aliran romantisme abad XVIII yang terlalu banyak menggunakan kata-kata (la préciousité). Tanpa disadari aliran naturalis seperti kembali ke penulisan gaya klasik dengan membuang pemakaian kata yang terlalu panjang tetapi tidak menghilangkan pandangan personal yang dituangkan dalam tulisan. Salah satu representatif terbaik dalam aliran Naturalis ialah Guy de Maupassant, ia dalam karyanya banyak mendeskripsikan keindahan alam yang dianggap sebagai kecantikan murni yang abadi. Banyak simbolisasi yang digunakan dalam karya-karyanya untuk menggambarkan keindahan alam, simbolisasi tersebut kemudian menjadi perlambang perasaan yang dimiliki manusia seperti cinta, kerinduan dan rasa benci. Perasaan manusia adalah hal yang menarik untuk diangkat sebab perasaan tersebut adalah sebuag tema besar yang selalu muncul dalam keseharian tiap individu.

1.2 Masalah
Apakah makna bulan dalam karya Guy de Maupassant yang berjudul Claire de Lune?

1.3 Tujuan
Menemukan arti pemberian simbol bulan pada cerita pendek karya Guy de Maupassant yang berjudul Claire de Lune dan kaitannya dengan aliran naturalis.

1.4 Korpus
Guy de Maupassant : Clair de lune. Texte publié dans Gil Blas du 19 octobre 1882 sous la signature de Maufrigneuse, puis publié dans le recueil Clair de lune.


2. Analisis
2.1 Satuan Isi Cerita
Cerita pendek yang dibuat oleh Guy de Maupassant pada tahun 1882 ini berjudul Claire de Lune. Alur yang digunakan dalam cerita ini adalah alur maju dengan sebuah kejadian di akhir cerita yang menjadi penutup sekaligus jawaban dari permasalahan yang ditimbulkan oleh tokoh utama pada awal cerita. Pemikiran-pemikiran sang tokoh utama banyak diutarakan dalam cerita ini, sang penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu untuk menjabarkan jalan ceritanya.

1. Abbe Marignan adalah seorang pastur yang sangat taat dan yakin bahwa ia mengetahui apapun yang dikehendaki Tuhan.
2. Ia sering mempertanyakan sebab Tuhan menciptakan sesuatu dan meletakkan pikirannya dalam posisi Tuhan atau setidaknya menerka, karena ia yakin segala sesuatu telah dibuat dengan alasan yang mengagumkan dan logis.
3. Ia berpendapat bahwa selalu ada keseimbangan antara mengapa sesuatu diciptakan dan penyebabnya, sebagai contoh perubahan hari dari terbitnya matahari sampai terbenam telah diatur oleh Tuhan untuk mengatur aktivitas manusia.
4. Perubahan 4 musim pun dianggap sebagai jawaban atau akibat yang tepat dalam bidang agrikultur.
5. Satu hal yang tidak disukainya adalah wanita, sebab wanita menurutnya diciptakan hanya untuk menggoda iman seorang pria, selain itu wanita juga dianggap makhluk yang tidak berguna, berbahaya, misterius dan membawa masalah.
6. Ia sering merasa jatuh hati pada kelembutan seorang wanita dan perilaku mereka, namun ketika sadar ia menjadi marah terhadap hatinya yang terus bergetar.
7. Hanya para biarawati yang menurutnya tidak memiliki sifat buruk yang dimiliki wanita lain sebab mereka sama sekali bukan penggoda iman, meski terkadang ia dapat merasakan para biarawati mencuri pandang kepadanya padahal mereka mengetahui bahwa ia adalah seorang pastur.
8. Ia bisa merasakan pandangan para biarawati itu bercampur dengan kecintaan mereka terhadap Tuhan, ketika mereka berbicara kepadanya dengan suara yang rendah, menurunkan pandangan saat berbicara dengannya dan menangis saat pengakuan, didalamnya tersimpan perasaan yang salah..
9. Jika mereka berbuat begitu, ia segera keluar dari pintu ruang pengakuan dosa dan seperti terlepas dari bahaya.
10. Abbe memiliki seorang keponakan wanita yang sangat cantik, yang selalu membuatnya tertawa saat menjadi khatib dan memeluknya ketika ia sedang marah. Ia adalah tipe wanita idaman semua pria
11. Mereka sering menghabiskan waktu berjalan bersama, sang pastur sering membicarakan tentang Tuhannya namun nampaknya sang keponakan tidak begitu memperhatikannya. Ia melihat lalat dan berkata ingin memeluknya sembari ia menunjukkan kelembutan hatinya.
12. Suatu hari, Melanie, istri dari “sexton” melaporkan bahwa sang keponakkan memiliki seorang kekasih dan mereka sering bertemu di malam hari di tepi sungai sekitar tengah malam antara pukul 10 sampai 12
13. Sang pastur mulai marah dan jengkel, ia bersikap seolah-olah ia adalah orang tua yang kecolongan mendapati anaknya telah memilih suami tanpa diberitahu kepadanya sebelumnya.
14. Selepas makan malam, ia mencoba untuk sedikit membaca namun ia malah bertambah marah, maka ia memutuskan untuk jalan-jalan keluar rumah sebentar dan emnenangkan diri.
15. Saat membuka pintu, ia terpana melihat cahaya bulan yang begiti indah dan ia mendapati betapa indahnya taman kecil miliknya dimalam hari.
16. Ia menikmati indahnya cahaya bulan yang sinarnya lebih lembut dari siang hari dan mengapa planet tersebut begitu memiliki daya tarik dan menyelimuti benda-benda hingga memberikan kemisteriusan di malam hari.
17. Sang pastur kembali berjalan sambil menyimpan pertanyaan mengapa Tuhan menciptakan hal seindah ini ketika semua orang tengah tertidur.
18. Ia tidak mengerti mengapa bulan bisa membuat hatinya bergetar dan memberi emosi padanya. Mengapa bulan diciptakan ketika semua orang seharusnya tertidur? Ia tetap tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut
19. Tapi kemudian dia melihat dua insane, yang adalah keponakannya bersama seorang lelaki, sedang memadu kasih di bawah pohon diselimuti cahaya bulan.
20. Ia kemudian menyadari jawaban dari semua pertanyaannya sesaat tadi dan ia teringat sebuah kisah dalam injil tentang kisah cinta Ruth dan Boaz
21. Ia pun menemukan jawaban : mungkin Tuhan menciptakan malam ini untuk memperlihatkan keindahan cinta yang dimiliki sepasang kekasih
22. Ia kemudian tersadar bahwa selama ini pandangannya terhadap wanita dan cinta telah salah, pemahaman mulai muncul dalam dirinya bahwa Tuhan mengijinkan cinta itu ada. Perasaan malu menyelimuti dirinya, ia membalikan badan dan pergi dari taman tersebut karena tidak berniat mengganggu kebersamaan sepasang kekasih tersebut.

2.2 Analisis/Uraian dari satuan isi cerita
Bulan sebagai judul dari cerita ini juga merupakan simbol yang digunakan Guy de Maupassant untuk melambangkan cinta. Perasaan cinta adalah hal yang lumrah dan sewajarnya dirasakan tiap individu. Simbolisasi bulan mengibaratkan cinta sebagai sesuatu yang tersembunyi didalam kegelapan dan tidak ada yang dapat mengetahuinya bila ia tidak melihatnya dengan baik-baik, seseorang hanya bisa menemukan cinta bila ia melihat betul-betul ke lubuk hatinya. Cinta disandingkan dengan bulan yang diciptakan oleh Tuhan untuk menghiasi malam hari dan malam itu sendiri diciptakan untuk memberi waktu bagi sepasang kekasih untuk dapat saling berbagi perasaan yang tulus. Keberadaan bulan pada malam hari juga merupakan salah satu ciptaan Tuhan untuk menyempurnakan malam, keindahan alam yang diangkat oleh sang penulis inilah yang menjadi ciri khas sehingga cerita ini masuk dalam salah satu karya besar dari aliran naturalisme pada abad XIX.
Suasana malam yang tercipta begitu indah dengan adanya bulan seakan menjadi jawaban atas permasalahan psikis yang dialami tokoh utama cerita ini. Abbe Marignan yang menjadi tokoh utama dalam cerita pendek ini memiliki latar belakang pemahaman religius tinggi sebagai seorang pastur. Tuntutan profesinya tersebut memaksanya untuk melupakan bagian dirinya sebagai laki-laki yang memiliki hasrat menyukai wanita. Sang pastur membentengi diri agar tidak timbul perasaan yang menurutnya dosa bila memiliki perasaan tertentu pada wanita dengan membedakan antara wanita dan pria. Ia melihat wanita sebagai dosa dan tidak dapat memahami sebab Tuhan menciptakan wanita selain sebagai penggoda iman. Ketidakpahaman Abbe Marignan atas kehendak Tuhan kemudian terjawab setelah ia melihat keindahan malam dengan bulan yang menyinari disebuah taman tempat sepasang kekasih bertemu. Ia menyadari bahwa Tuhan mengijinkan adanya cinta diantara sepasang kekasih dan wanita diciptakan agar hidup seorang laki-laki lebih sempurna.


2.3 Analisis Tokoh
Abbe Marignan
• Seorang pastur yang amat taat, memiliki tubuh yang jangkung dan kurus. Ia merasa mengenal dengan baik Tuhan dan segala ciptaanNya.
“C'était un grand prêtre maigre, fanatique, d'âme toujours exaltée, mais droite. Toutes ses croyances étaient fixes, sans jamais d'oscillations. Il s'imaginait sincèrement connaître son Dieu, pénétrer ses desseins, ses volontés, ses intentions.”

• Memiliki keyakinan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu pasti ada sebab akibatnya.
“Quand il se promenait à grands pas dans l'allée de son petit presbytère de campagne, quelquefois une interrogation se dressait dans son esprit : "Pourquoi Dieu a-t-il fait cela ?" Et il cherchait obstinément, prenant en sa pensée la place de Dieu, et il trouvait presque toujours.”
• Tidak menyukai wanita karena menurutnya wanita adalah penggoda iman
"Femme, qu'y a-t-il de commun entre vous et moi ?" et il ajoutait : "On disait que Dieu lui-même se sentait mécontent de cette oeuvre-là."
• Menginginkan keponakannya menjadi biarawati, ini disebabkan ia tidak ingin keponakannya tersebut memiliki sifat penggoda dan berdosa seperti pandangan dia terhadap wanita lain.
“Tout le jour, il demeura muet, gonflé d'indignation et de colère. A sa fureur de prêtre, devant l'invincible amour, s'ajoutait une exaspération de père moral, de tuteur, de chargé d'âme, trompé, volé, joué par une enfant ; cette suffocation égoïste des parents à qui leur fille annonce qu'elle a fait, sans eux et malgré eux, choix d'un époux.”
Keponakan Abbe Marignan
• Memiliki paras yang cantik dan mempesona
“ Elle était jolie, écervelée et moqueuse.”
• Menyayangi Abbe Marignan seperti layaknya cinta anak kepada ayahnya.
“Quand l'abbé sermonnait, elle riait ; et quand il se fâchait contre elle, elle l'embrassait avec véhémence, le serrant contre son coeur, tandis qu'il cherchait involontairement à se dégager de cette étreinte qui lui faisait goûter cependant une joie douce, éveillant au fond de lui cette sensation de paternité qui sommeille en tout homme.”
• Memiliki jiwa penyayang
“Quelquefois elle s'élançait pour attraper une bête volante, et s'écriait en la rapportant : "Regarde, mon oncle, comme elle est jolie ; j'ai envie de l'embrasser." Et ce besoin d'"embrasser des mouches" ou des grains de lilas inquiétait, irritait, soulevait le prêtre, qui retrouvait encore là cette indéracinable tendresse qui germe toujours au coeur des femmes.”
Kekasih Keponakan Abbe Marignan
• Memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar.
“ L'homme était plus grand”
Mélanie, wanita yang bekerja di rumah Abbe Marignan
• Jujur
“Mais la paysanne posa la main sur son coeur : "Que Notre-Seigneur me juge si je mens, monsieur le curé. J' vous dis qu'elle y va tous les soirs sitôt qu' votre soeur est couchée. Ils se r'trouvent le long de la rivière. Vous n'avez qu'à y aller voir entre dix heures et minuit."

2.4 Analisis Setting
Secara keseluruhan, setting yang diambil pada cerita pendek ini adalah suasana sebuah desa kecil di Prancis pada tahun 1800-an. Pada masa itu gereja memiliki pengaruh yang kuat bagi kehidupan masyarakat. Mereka menjalani kegiatan mereka dengan berpedoman pada gereja, seperti bangun di pagi hari saat mendengar lonceng gereja berbunyi dan pulang kerja di sore hari ketika lonceng gereja berbunyi kembali. Masyarakat menjunjung tinggi institusi agama dan gereja sehingga penilaian akan baik buruk sikap seseorang sangat bergantung pada pandagan para pastur.
• Latar tempat
Latar utama yang digunakan dalam cerita ini adalah taman di biara yang terletak dekat rumah keluarga sang pastur. Penggunaan latar taman atau tempat terbuka ialah untuk memperlihatkan keadaan alam di malam hari. Sesuai dengan aliran naturalis yang dianut Guy de Maupassant, ia menggambarkan keindahan alam pada malam hari dengan pendeskripsian suasana taman. Keponakan Abbe Marignan bertemu dengan kekasihnya di taman, latar taman digunakan sebagai tempat bertemunya sepasang kekasih karena hubungan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
• Latar waktu
Waktu yang dipilih dalam cerita ini adalah malam hari antara pukul 22.00-23.00. Kejadian ini berlanngsung pada malam hari karena sang keponakan memiliki hubungan yang tersembunyi dengan kekasihnya dan ia tidak ingin pamannya mengetahui hal tersebut, maka ia hanya bisa bertemu kekasihnya bila malam telah tiba, saat semua orang telah terlelap. Lewat penggunaan latar waktu malam hari, sang penulis ingin mengungkapkan keindahan malam terutama ketika bulan menampakan dirinya. Suasana malam hari menimbulkan efek romantis dan menenangkan bagi orang-orang yang tengah menikmati keindahan malam sekaligus memiliki kesan misterius dan tersembunyi namun tetap memukau.

3. Kesimpulan
Simbolisasi bulan yang muncul pada malam hari menjadi perlambang perasaan manusia yang murni dan lumrah dirasakan tiap individu. Permasalahan ketidakpahaman Abbe Marignan pada kehendak Tuhan menjadi contoh bagi kita untuk tidak membedakan laki-laki dan wanita dan melihat wanita hanya sebagai dosa. Kita harus bisa lebih cermat melihat pesan-pesan yang Tuhan simpan dalam setiap ciptaannya, karena segala ciptaanNya telah diatur untuk melengkapi satu sama lain. Tuhan menciptakan alam semesta dan juga manusia untuk suatu kesempurnaan.

4. Daftar Pustaka
http://www.gutenberg.org/etext/11199
5. Lampiran Cerita

CLAIR DE LUNE
Il portait bien son nom de bataille, l'abbé Marignan. C'était un grand prêtre maigre, fanatique, d'âme toujours exaltée, mais droite. Toutes ses croyances étaient fixes, sans jamais d'oscillations. Il s'imaginait sincèrement connaître son Dieu, pénétrer ses desseins, ses volontés, ses intentions.
Quand il se promenait à grands pas dans l'allée de son petit presbytère de campagne, quelquefois une interrogation se dressait dans son esprit : "Pourquoi Dieu a-t-il fait cela ?" Et il cherchait obstinément, prenant en sa pensée la place de Dieu, et il trouvait presque toujours. Ce n'est pas lui qui eût murmuré dans un élan de pieuse humilité : "Seigneur, vos desseins sont impénétrables !" Il se disait : "Je suis le serviteur de Dieu je dois connaître ses raisons d'agir, et les deviner si je ne les connais pas."
Tout lui paraissait créé dans la nature avec une logique absolue et admirable. Les "Pourquoi" et les "Parce que" se balançaient toujours. Les aurores étaient faites pour rendre joyeux les réveils, les jours pour mûrir les moissons, les pluies pour les arroser, les soirs pour préparer au sommeil et les nuits sombres pour dormir.
Les quatre saisons correspondaient parfaitement à tous les besoins de l'agriculture ; et jamais le soupçon n'aurait pu venir au prêtre que la nature n'a point d'intentions et que tout ce qui vit s'est plié, au contraire, aux dures nécessités des époques, des climats et de la matière.
Mais il haïssait la femme, il la haïssait inconsciemment, et la méprisait par instinct. Il répétait souvent la parole du Christ : "Femme, qu'y a-t-il de commun entre vous et moi ?" et il ajoutait : "On disait que Dieu lui-même se sentait mécontent de cette oeuvre-là." La femme était bien pour lui l'enfant douze fois impure dont parle le poète. Elle était le tentateur qui avait entraîné le premier homme et qui continuait toujours son oeuvre de damnation, l'être faible, dangereux, mystérieusement troublant. Et plus encore que leur corps de perdition, il haïssait leur âme aimante.
Souvent il avait senti leur tendresse attachée à lui et, bien qu'il se sût inattaquable, il s'exaspérait de ce besoin d'aimer qui frémissait toujours en elles.
Dieu, à son avis, n'avait créé la femme que pour tenter l'homme et l'éprouver. Il ne fallait approcher d'elle qu'avec des précautions défensives, et les craintes qu'on a des pièges. Elle était, en effet, toute pareille à un piège avec ses bras tendus et ses lèvres ouvertes vers l'homme.
Il n'avait d'indulgence que pour les religieuses que leur voeu rendait inoffensives ; mais il les traitait durement quand même, parce qu'il la sentait toujours vivante au fond de leur coeur enchaîné, de leur coeur humilié, cette éternelle tendresse qui venait encore à lui, bien qu'il fût un prêtre.
Il la sentait dans leurs regards plus mouillés de piété que les regards des moines, dans leurs extases où leur sexe se mêlait, dans leurs élans d'amour vers le Christ, qui l'indignaient parce que c'était de l'amour de femme, de l'amour charnel ; il la sentait, cette tendresse maudite, dans leur docilité même, dans la douceur de leur voix en lui parlant, dans leurs yeux baissés, et dans leurs larmes résignées quand il les reprenait avec rudesse.
Et il secouait sa soutane en sortant des portes du couvent, et il s'en allait en allongeant les jambes comme s'il avait fui devant un danger.
Il avait une nièce qui vivait avec sa mère dans une petite maison voisine. Il s'acharnait à en faire une soeur de charité.
Elle était jolie, écervelée et moqueuse. Quand l'abbé sermonnait, elle riait ; et quand il se fâchait contre elle, elle l'embrassait avec véhémence, le serrant contre son coeur, tandis qu'il cherchait involontairement à se dégager de cette étreinte qui lui faisait goûter cependant une joie douce, éveillant au fond de lui cette sensation de paternité qui sommeille en tout homme.
Souvent il lui parlait de Dieu, de son Dieu, en marchant à côté d'elle par les chemins des champs. Elle ne l'écoutait guère et regardait le ciel, les herbes, les fleurs, avec un bonheur de vivre qui se voyait dans ses yeux. Quelquefois elle s'élançait pour attraper une bête volante, et s'écriait en la rapportant : "Regarde, mon oncle, comme elle est jolie ; j'ai envie de l'embrasser." Et ce besoin d'"embrasser des mouches" ou des grains de lilas inquiétait, irritait, soulevait le prêtre, qui retrouvait encore là cette indéracinable tendresse qui germe toujours au coeur des femmes.
Puis, voilà qu'un jour l'épouse du sacristain, qui faisait le ménage de l'abbé Marignan, lui apprit avec précaution que sa nièce avait un amoureux.
Il en ressentit une émotion effroyable, et il demeura suffoqué, avec du savon plein la figure, car il était en train de se raser.
Quand il se retrouva en état de réfléchir et de parler, il s'écria : "Ce n'est pas vrai, vous mentez, Mélanie !"
Mais la paysanne posa la main sur son coeur : "Que Notre-Seigneur me juge si je mens, monsieur le curé. J' vous dis qu'elle y va tous les soirs sitôt qu' votre soeur est couchée. Ils se r'trouvent le long de la rivière. Vous n'avez qu'à y aller voir entre dix heures et minuit."
Il cessa de se gratter le menton, et il se mit à marcher violemment, comme il faisait toujours en ses heures de grave méditation. Quand il voulut recommencer à se barbifier, il se coupa trois fois depuis le nez jusqu'à l'oreille.
Tout le jour, il demeura muet, gonflé d'indignation et de colère. A sa fureur de prêtre, devant l'invincible amour, s'ajoutait une exaspération de père moral, de tuteur, de chargé d'âme, trompé, volé, joué par une enfant ; cette suffocation égoïste des parents à qui leur fille annonce qu'elle a fait, sans eux et malgré eux, choix d'un époux.
Après son dîner, il essaya de lire un peu, mais il ne put y parvenir ; et il s'exaspérait de plus en plus. Quand dix heures sonnèrent, il prit sa canne, un formidable bâton de chêne dont il se servait toujours en ses courses nocturnes, quand il allait voir quelque malade. Et il regarda en souriant l'énorme gourdin qu'il faisait tourner, dans sa poigne solide de campagnard, en des moulinets menaçants. Puis, soudain, il le leva, et, grinçant des dents, l'abattit sur une chaise dont le dossier fendu tomba sur le plancher.
Et il ouvrit sa porte pour sortir ; mais il s'arrêta sur le seuil, surpris par une splendeur de clair de lune telle qu'on n'en voyait presque jamais.
Et comme il était doué d'un esprit exalté, un de ces esprits que devaient avoir les Pères de l'Église, ces poètes rêveurs, il se sentit soudain distrait, ému par la grandiose et sereine beauté de la nuit pâle.
Dans son petit jardin, tout baigné de douce lumière, ses arbres fruitiers, rangés en ligne, dessinaient en ombre sur l'allée leurs grêles membres de bois à peine vêtus de verdure ; tandis que le chèvrefeuille géant, grimpé sur le mur de sa maison, exhalait des souffles délicieux et comme sucrés, faisait flotter dans le soir tiède et clair une espèce d'âme parfumée.
Il se mit à respirer longuement, buvant de l'air comme les ivrognes boivent du vin, et il allait à pas lents, ravi, émerveillé, oubliant presque sa nièce.
Dès qu'il fut dans la campagne, il s'arrêta pour contempler toute la plaine inondée de cette lueur caressante, noyée dans ce charme tendre et languissant des nuits sereines. Les crapauds à tout instant jetaient par l'espace leur note courte et métallique, et des rossignols lointains mêlaient leur musique égrenée qui fait rêver sans faire penser, leur musique légère et vibrante, faite pour les baisers, à la séduction du clair de lune.
L'abbé se remit à marcher, le coeur défaillant, sans qu'il sût pourquoi. Il se sentait comme affaibli, épuisé tout à coup ; il avait une envie de s'asseoir, de rester là, de contempler, d'admirer Dieu dans son oeuvre.
Là-bas, suivant les ondulations de la petite rivière, une grande ligne de peupliers serpentait. Une buée fine, une vapeur blanche que les rayons de lune traversaient, argentaient, rendaient luisante, restait suspendue autour et au-dessus des berges, enveloppait tout le cours tortueux de l'eau d'une sorte de ouate légère et transparente.
Le prêtre encore une fois s'arrêta, pénétré jusqu'au fond de l'âme par un attendrissement grandissant, irrésistible.
Et un doute, une inquiétude vague l'envahissait ; il sentait naître en lui une de ces interrogations qu'il se posait parfois.
Pourquoi Dieu avait-il fait cela ? Puisque la nuit est destinée au sommeil, à l'inconscience, au repos, à l'oubli de tout, pourquoi la rendre plus charmante que le jour, plus douce que les aurores et que les soirs, et pourquoi cet astre lent et séduisant, plus poétique que le soleil et qui semblait destiné, tant il est discret, à éclairer des choses trop délicates et mystérieuses pour la grande lumière, s'en venait-il faire si transparentes les ténèbres ?
Pourquoi le plus habile des oiseaux chanteurs ne se reposait-il pas comme les autres et se mettait-il à vocaliser dans l'ombre troublante ?
Pourquoi ce demi-voile jeté sur le monde ? Pourquoi ces frissons de coeur, cette émotion de l'âme, cet alanguissement de la chair ?
Pourquoi ce déploiement de séductions que les hommes ne voyaient point, puisqu'ils étaient couchés en leurs lits ? A qui étaient destinés ce spectacle sublime, cette abondance de poésie jetée du ciel sur la terre ?
Et l'abbé ne comprenait point.
Mais voilà que là-bas, sur le bord de la prairie, sous la voûte des arbres trempés de brume luisante, deux ombres apparurent qui marchaient côte à côte.
L'homme était plus grand et tenait par le cou son amie, et, de temps en temps, l'embrassait sur le front. Ils animèrent tout à coup ce paysage immobile qui les enveloppait comme un cadre divin fait pour eux. Ils semblaient, tous deux, un seul être, l'être à qui était destinée cette nuit calme et silencieuse ; et ils s'en venaient vers le prêtre comme une réponse vivante, la réponse que son Maître jetait à son interrogation.
Il restait debout, le coeur battant, bouleversé ; et il croyait voir quelque chose de biblique, comme les amours de Ruth et de Booz, l'accomplissement d'une volonté du Seigneur dans un de ces grands décors dont parlent les livres saints. En sa tête se mirent à bourdonner les versets du Cantique des Cantiques, les cris d'ardeur, les appels des corps, toute la chaude poésie de ce poème brûlant de tendresse.
Et il se dit : "Dieu peut-être a fait ces nuits-là pour voiler d'idéal les amours des hommes."
Et il reculait devant ce couple embrassé qui marchait toujours. C'était sa nièce pourtant ; mais il se demandait maintenant s'il n'allait pas désobéir à Dieu. Et Dieu ne permet-il point l'amour, puisqu'il l'entoure visiblement d'une splendeur pareille ?
Et il s'enfuit, éperdu, presque honteux, comme s'il eût pénétré dans un temple où il n'avait pas le droit d'entrer.
19 octobre 1882

Tidak ada komentar:

Posting Komentar